ISNAWIJAYANI[i]
ABSTRAK
Tulisan ini merupakan kajian penulis dan bertujuan untuk menggambarkan kondisi masyarakat Sumatera Selatan dalam kehidupannya bermedia setelah reformasi untuk media cetak dan setelah dilahirkannya Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran.
Dengan menggunakan metoda penulisan kualitatif, penulis mengamati perubahan kehidupan masyarakat besama suratkabar lokal dan televisi lokal swasta. Disamping pengamatan, penulis melakukan wawancara mendalam dengan wartawan, pengelola media, pengguna, akademisi, ibu rumahtangga .
Awalnya masyarakat tidak begitu perduli akan media, lama kelamaan masyarakat berlomba-lomba untuk diberitakan dalam pemberitaan suratkabar dan televisi ataupun advertorial agar diketahui kegiataan apa yang dilakukan, serta menjadi kebanggaan. Hal ini sesuai dengan teori kebutuhan hidup Abraham Maslow akan pujian dan aktualisasi diri. Dengan pendekatan Uses and gratification sesuaii dengan orang menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Disini terjadi perubahan kognitif dalam masyarakat. Dengan Kultivasi, adanya media lokal menumbuhkan kembangkan budaya lokal yang tadinya semakin terpinggirkan, rusak atau dianggap hilang, karena terpaan media lain. televisi menjadi media pembelajaran tentang masyarakat dan budaya lingkungannya.
Sisi negatif media dan pengguna selalu menghendaki berita advertorial, walau harus membayar. Untuk televisi melahirkan biaya liputan. Yang penting masuk dalam pemberitaan.
Perlu media literasi bagi seluruh masyarakat.
Kata kunci: media lokal, kebutuhan hidup, media literasi